Dadaku mulai berdegup lagi. Nafasnya tercium hidungku. Jav Sub Indo Lalu pindah ke pangkal paha. Angin menerobos kencang hingga seseorang yang membaca tabloid menutupi wajahnya terganggu.“Mas Tut..” hah..? Bodoh, bodoh, bodoh.Eh.., kesempatan, kesempatan, kesempatan. Mobil bergerak pelan, aku masih melihat ke arahnya, untuk memastikan ke mana arah wanita yang berkeringat di lehernya itu. Wanita muda itu mengikuti di belakang. Ya nggak apa-apa,” katanya menjawab telepon.“Siapa Mbak..?” kataku sambil menancapkan Junior amblas seluruhnya.“Si Nina, yang tadi. Lihatlah ia tadi begitu teliti membenahi semua perlatannya.Apalagi yang dapat tertinggal? Sopir menepikan kendaraan persis di depan sebuah salon.Aku perhatikan ia sejak bangkit hingga turun. Tidak terlalu ayu. Aku memegang teteknya. Suara itu lagi. Alamak.., jauhnya.




















