Selera makanku mendadak punah. “Ah, betapa manisnya wajah istriku ketika sedang kegirangan… kenapa tidak dari dulu kulakukan menjemput isteri?” sesal hatiku.******Esoknya aku membeli sepasang sepatu untuk isteriku. Bokep Jepang Baru juga pulang sudah ngomel-ngomel terus. Jangankan untuk kerja, jalan saja susah. Kalau yang lain memakai baju berbunga cerah indah, ia hanya memakai baju warna gelap yang sudah lusuh pula warnanya. Dug! Katanya mau jadi isteri shalihah? Lalu segera kuambil sandal jepit kumal yang tertindih sepatu indah itu. Namun apa yang terjadi? Ummi kan muntah-muntah terus, ini badan rasanya tak bertenaga sama sekali,” ucap isteriku diselingi isak tangis. Kesempatan waktu luang ini kugunakan untuk menjemput isteriku. Selalu saja, kalau tak keasinan, kemanisan, kalau tak keaseman, ya kepedesan!” Ya, aku tak bisa menahan emosi untuk tak menggerutu.“Sabar Bi, Rasulullah juga sabar terhadap masakan Aisyah dan




















