Membuat si kecil itu mengedut dan pelan-pelan bangkit. Berdesir darahku, tapi kucoba tepis pikiran kotor yang melintas sesaat. Bokep Mom Karena sibuk mengurusi kaki Bu Eti, aku terlepas dari pelukan Endah. Kadang sampai larut malam kita tidak tidur, berkumpul di kamar depan, karena hanya ada dua kamar di posko itu.Aku pegang gitar, mengiringi teman-teman menyanyi lagu-lagu nostalgia. Ternyata jika nafsu sudah bicara, cewek se-ayu Marsitah bisa “makan” dengan lahap “bodin” Banyumasnya Ponijan yang hitam legam itu. Kuamati matanya, masih tertutup. Bu Etik langsung tidur tanpa membereskan kainnya yang tersingkap dan buah dadanya yang luber ke mana—mana. Kesibukan yang menguras tenaga dan pikiran, ditambah dengan kesulitan yang selalu muncul, membuat kelompok kami semakin kompak.




















