Tapi sebelum berlalu masih sempat melihatku sekilas. Bokep Tobrut Esoknya, dari rumah kuitung-itung waktu. Dari jarak yang dekat ini hawa panas tubuhnya terasa. Eh.., kesempatan, kesempatan, kesempatan. Mulutnya persis di depan Junior hanya beberapa jari. Ah masa bodo. Bicara apa? Mbak Wien merapihkan pakaiannya lalu pergi menjawab telepon. Ah sial. Atau kesialan, karena ia masih mengangkat tabloid menutupi wajah? Ia cukup lama bermain-main di perut. Ia tidak membalas tapi lebih ramah. Kali ini lebih bertenaga dan aku memang benar-benar pegal, sehingga terbuai pijitannya.“Telentang..!” katanya.Kuputuskan untuk berani menatap wajahnya. Ayo. “Pelan-pelan suaranya kan bisa Dek,” sang supir menggerutu sambil memberikan kembalian.Aku membalik arah lalu berjalan cepat, penuh semangat. Tidak pasang wajah perangnya.“Kayak kemarinlah..,” ujarnya sambil mengangkat tabloid menutupi wajahnya.Begitu kebetulankah ini? Payudara itu dari jarak yang cukup dekat jelas membayang. Tetapi berlari.




















