Terasa dingin di sore yg panas itu. Bokeb Biarlah… jika waktu berlalu, entah kemana nasibku melaju. Bersih tak berbekas, aku menyemprot dengan pembersih yg wangi lavender, kesukaan ibu, kesukaanku juga. Aku menahan nafas, menanti. sekali lagi tangan yg kekar itu memegang pinggangku yg ramping erat-erat, menekan tubuhku ke bawah. Aku merintih, memohon agar penisnya dimasukkan kembali. Lengket.Aku melepaskan ikatan rambutku, tergerai sampai ke ujung putingku. Aku duduk di atas meja. Bagaimana bisa berkata cinta? Kedua lutut di pinggir ranjang, kedua siku menopang, dan kepala dan bahuku merunduk ke bawah, bagaikan rusa betina yg sedang minum air yg segar dengan rakusnya. Aku cinta sama kamu!” Aku menunduk dalam- dalam. Tapi sekarang, kalau boleh saya ingin melayani Kakak…” Aku mengangkat wajah.Menatap wajah tampan itu, menjadi Arjunaku dalam hidup.




















