Ia membersihkan punggungku dengan handuk hangat. Aku memandang ke arah lain mengindari adu tatap. Bokeb Aku masih penasaran, ia seperti tanpa ekspresi. Ia membuncah ketika aku melumat klitorisnya. Dari atas: Turun. Keringatnya meleleh seperti yang kulihat sekarang. Kini ia pindah ke paha, agak berani ia masuk sedikit ke selangkangan. Mobil melaju. Tetapi eh.., diam-diam ia mencuri pandang ke arah juniorku. Eh.., kesempatan, kesempatan, kesempatan. Dari iramanya bukan sedang berjalan. Di balik kain tipis, celana pantai ini ia sebetulnya bisa melihat arah turun naik Si Junior. Toh masih ada hari esok.Aku bergegas naik angkot yang melintas. Atau jangan-jangan ia juga disuruh ibunya bayar arisan. Menantang dengan mata genit sambil mendekati pintu salon. Creambath? Kalau kini aku berani pasti karena dadanya terbuka, pasti karena peluhnya yang membasahi leher, pasti karena aku terlalu terbuai lamunan.















